Kesaksian Mula-mula

Lembar Kesaksian Mula-mula

Di Surga.

Tiba-tiba Allah membangunkan aku dari tidurku yang lelap dan ia memilih aku.

Aku        : “Aku? Bukan aku? Ya aku. Perempuan. Tidak laki-laki saja”

Tuhan   : “ Baiklah laki-laki”

Aku        : “ Tidak baiklah aku perempuan saja.”

Kemudian para malaikat bernyanyi.  Di situpun ada bersama-sama mereka aku.

Aku        : “ Di dunia makanannya enak-enak lho. Heem. Aku mau jadi diriku sendiri ah.”

Tuhan   : “ Berarti kamu jadi Bunda Maria.”

Aku        : “ Aku?”

Tuhan   : “ Eh Iya.”

Aku        : “ Bunda Maria. Ssst.. jangan keras-keras, aku orang biasa . Sebentar lagi aku turun ke dunia. Berarti kalau turun ke dunia menikah dan punya anak dong. Asyik. Enak ya.. Punya suami. Aku mau turun ke dunia. Enaknya namaku siapa ya? Aku tahu tapi rahasia ya. Namaku Anggun Charisma Ratika. Tapi biar tidak ketahuan orang lebih baik dirahasiakan saja. Ada perempuan yang namanya Anggun Cipta Sasmi kelak ia akan jadi penyanyi. Ia nanti akan pernah tinggal di Paris Perancis. Lalu ada laki-laki lain namanya merupakan singkatan namaku yaitu Arie Mustika Wijaya. Tidakkah wijayanya dihilangkan saja, tidak suka aku. Jadi Arie Mustika saja. Ya Arie Mustika memakai e di belakang kata Ari. Apakah Arie itu jodohku? Tidak bukan. Dia akan lahir pada tanggal 21 Januari 1988, tanggal 21 mirip ibu kita kartini. Dia akan lahir di kota Malang, anak yang lahir berasal dari orangtua asli Malang. Begitu. Jodohnya? Jodohnya Arie mungkin Ira ya.., anak yang namanya Ira kebalikan dari namanya. Ira siapa? Ira Puspita Yuniana mungkin asli Malang juga. Iya mungkin.

Jangan lupa persiapkan jodohku yang sesungguhnya. Jodohku ini harus dipersiapkan sejak dahulu kala maksudku terlebih dahulu. Namanya jodohku itu siapa ya? Biondany Gumilang. Ya. Ssst.. tapi jangan keras-keras nanti ketahuan banyak orang. Ada anak namanya Bi… Bi siapa ya? Bias Rahardian Surya. Ya nama anak itu selain suamiku adalah Bias Rahardian Surya.

Oh ya.. kelak di tempat kita berdiri ini nanti ehm tidak di Malang nanti ada dibangun sebuah tanggul sungai dan ada tangga atau undak-undakan di situ di sebelah kiri sungai dan kalau ada apa-apa kelak akan merenung dan sembunyi di situ mungkin.

Aku tertidur kembali.

Aku dibangunkan dengan ciuman seorang perempuan.

Aku        : “Mana suamiku? Eh kok kamu yang cium aku? Mana suamiku? Siapa suamiku?”

Tuhan  : “ Yosua.”

Aku        : “ Yosua siapa itu?”

Tuhan   : “ Tuhan Yesus.”

Aku        : “ Tuhan Yesus. Aku tidak siap. Aku malu. Yang lain saja.”

Aku        :” Ini di surga? Ini dimana? Di bumi?”

Malaikat               : “ Ya di bumi.”

Tiba-tiba aku ke suatu tempat.

Aku        : “ Mana malaikat Gabriel? Malaikat Gabriel? Mana malaikat Gabriel? Katanya aku Bunda Maria? Oh itu dia.”

Malaikat Gabriel hendak menciumku.

Aku        : “ Jangan! Jangan cium aku. Engkau bukan suamiku. Mana suamiku?”

Aku tertidur lagi.

Aku terbangun.

Aku        : “ Ada yang berpikir. Mikirin apa sih? sini coba ah. Aku bantu mikir. Ya Tuhan berat sekali. Tuhan tolong aku.”

Akhirnya aku tertolong.

Aku        : “ ehm.. nama kotanya saja dirubah.”

Tuhan   : “ Kamu mau lahir di keluarga Louis? Di eropa?”

Aku        : “ Tidak. kelihatannya mereka kurang berpengalaman. Lagipula kan sudah dipakai maria yang itu. Tidak. Aku lahir dari orang Jawa saja.”

Aku        : “ Baiklah nama kotanya dirubah. Dari kata Louis menjadi Leipzig dan selanjutnya Oslo di Norwegia. Aku nggak suka Norwegia. Lalu di Roma Italia. Dan seterusnya.”

Aku        :” Aku mau melihat keluargaku di Jawa. Ih lucunya imutnya baiknya. Aku mau lahir dari keluarga di situ. Ehm namanya Sukardi dari kata Su dan Kartini. Apa dia belum dapat jodoh? Carikan dia jodoh dong.”

Tuhan   : “ Ningrat.”

Aku        :” Ehm iya ningrat.Masuk Kristen saja jangan Islam. Islam? Jangan… Miskin atau sederhana saja.”

Aku        :” Aku mau lihat keluarga calon ibuku. Bagaimana kalau menyamar saja. Gampang deh”

Aku tertidur lagi.

Aku dibangunkan Tuhan.

Tuhan   : “ Kamu tidak lahir sekarang?”

Aku        :” Ini tahun berapa?”

Tuhan   : “ 1920-1930 an”

Aku        :” Tidak. Aku belum siap nanti saja”

Aku tertidur lagi.

Aku terbangun.

Tuhan   : “ Kamu tidak lahir sekarang?”

Aku        :” Ini tahun berapa?”

Tuhan   : “ 1950 an”

Aku        :” Tidak. Aku belum siap. Aku jadi cucunya saja.”

Aku        :” Aku mau lihat keluarga ibuku. Lho calon kakekku kok gitu. Sakit selama 17 tahun saja untuk menebus dosanya masuk rumah sakit. Sakit paru-paru.”

Beberapa tahun kemudian.

Aku        : “ Jadi kakekku masih sakit paru-paru. Gimana ya? Disembuhin? Jangan wes. Biarkan.”

Aku        :” Aku ingin lihat keluarga suamiku. Baiklah suamiku dari Jawa mungkin tapi nanti tinggal di Balikpapan. Ya di Balikpapan, Kalimantan Timur, Ningrat? Ya mungkin ningrat. Coba urus suamiku yah?”

Aku        :” Ibuku masuk sekolah apa ya? Keputrian saja. Jadi penjahit busana wanita. Kalau aku nanti masuk mana ya? Biar kelihatan pintar? Kedokteran? Tapi kan nanti miskin masuk kedokteran kan mahal?”

Tuhan   :” Gizi.”

Aku        :” Ya gizi? Gak seneng aku. Baiklah gizi. Kalau laki-laki apa ya? Tekhnik. Ya tekhnik mungkin.”

Tuhan   :” Aku gak suka tekhnik.”

Aku        : “ Gimana lagi?”

Aku        :” Gimana ya caranya agar banyak orang tahu kelak ibuku akan melahirkan calon bangsawan? Stasiun televisi saja akan datang ke rumahnya. Stasiun televise apa ya?”

Tuhan   :” Cuman satu stasiun televisi.”

Aku        :” Apa cuman satu? lain kali harus banyak lebih daris satu. Nama stasiun televisinya apa ya? Televisi Republik Indonesia atau disingkat TVRI. Gitu aja. Jahitannya diawur karena didikan karang taruna dan dapat mesin obras.”

Beberapa waktu kemudian…

Aku        : “ Astaga.. TVRI benar-benar datang. Ayo Eksi cepat sembunyi di undak-undakan sungai. Ya sembunyi di situ. Ibuku enaknya punya pacar yang pintar dari NTB sana.”

Aku        :” Astaga pacarnya itu benar-benar datang. Cepat sembunyi di sungai, Eksi. Ya sembunyi di situ.”

Beberapa tahun kemudian aku terbangun lagi.

Kerajaan Inggris sedang mempersiapkan calon pengantin dan bayi yang akan lahir. Akulah yang mempersiapkan calon pengantin perempuannya hingga calon bayinya saat itu.

Tuhan   : “ Apa kamu mau lahir dari perut lady Diana?”

Aku        :” Dia bisa bahasa Indonesia tidak? Lihat saja. Bisa sepertinya. Aku coba dulu ah.”

Aku        :: Tuhan tolong aku, aku hendak akan jadi jabang bayi di perut Lady Diana. Tidak.. Tuhan tolong aku..”

Akhirnya tertolong juga.

Aku        : “Kelak siapa yang dapat mengisi perut Lady Diana. Apa Biarawan? jadi dia mau? Mungkin. Ya dia saja.”

Beberapa tahun kemudian. Aku terbangun lagi kira-kita tahun 1984.

Tuhan   : “ Kamu tidak lahir sekarang?”

Aku        :” Ini tahun berapa?”

Tuhan   : “ 1984.”

Aku        :” Tidak. Aku belum siap.Tuliskan saja pada hari ini Santa Perawan Maria Berdukacita. Semoga aku tidak jadi jodohnya anaknya Lady Diana itu.”

Tuhan   :” Ayo kerja!”

Akhirnya aku bekerja dan menulis artikel di majalah Kartini. Nama majalah itu yang memberikannya adalah aku dan ibuku membeli majalah itu sesuai dengan rencanaku.

Beberapa  tahun kemudian.

Aku        :” Apa? Eksi dan Runtun belum menikah? Sampai kapan? Ayo segera menikah.”

Akhirnya ayah dan ibuku pun menikah dengan mengenakan baju bagus seadanya.

Lalu aku tertidur lagi.

Aku terbangun.

Aku        :” Mana suamiku? Eh siapa anak itu? Anak nakal. Masak jodohku kayak gitu. ya gak apa-apa deh dapat anak nakal. Tapi apa Maria yang dulu-dulu juga dapat anak nakal juga?”

Aku        :” Mana dia? Coba panggil.”

Akhirnya jodohku dipanggil juga sewaktu di surga tetapi aku memberikannya tanggung jawab yang kecil. Sehingga para malaikat menanyaiku mengapa aku memberinya tanggung jawab yang kecil. Namun karena sudah terlanjur dan ia pergi akhirnya aku tak dapat bertemu dengannya lagi.

Aku        : “ Jadi aku menyelamatkannya (jodohku)? Iya. Gak apa-apa deh aku coba. Tapi berat ya.. “

Aku        : ”Wajahnya nanti seperti orang Israel tampan sekali.”

Tuhan   :” Tidak menyesal memberi wajah seperti itu?”

Aku        :” Menyesal sih. Nanti wajahku sedikit ada Israelnya juga. Sedikit saja.”

Lalu aku menggerutu.

Aku        :” Sudah bukan Yesus. Tampan lagi. Bukan Yosua. sedih.”

Tiba-tiba Tuhan bertanya padaku.

Tuhan   :’ Tidakkah engkau menyediakan istri lagi bagi suamimu selain engkau?”

Aku        :’ Tidak Tuhan. Nanti aku cemburu.”

Selesai itu tiba-tiba aku memutuskan untuk hilang ingatan dan ingatanku ini akan muncul kembali di saat usiaku mencapai 23 tahun. Lama juga yah..

Aku        :” Saatnya aku lahir ke dunia. Lahir di Ruteng. Sekarang jam berapa ya? Boleh kan Tuhan aku melongok keluar melihat jam dinding. Kok belum jam 09.00 ya?”

Sekarang sudah jam 09.00 pagi, tapi aku belum lahir-lahir. Lalu pada jam 10.00 aku lahir ke dunia. Aku lupa bahwa aku sesungguhnya lahir pada jam 09.00 WIB namun jam menunjukkan pukul 10.00 WITA. Ya WITA. Oleh karena itu aku mengusulkan ada anak yang lahir sebelum aku lahir diberi nama Whinta Kurnia Dwijaya. Kenapa namanya Whinta? Karena aku lahir pada waktu WITA (Waktu Indonesia Bagian Tengah).

Akupun lahir. Sewaktu aku lahir, kedua kaki dan lututku masih goyah. Akupun memanggil Allahku dengan sebutan Bapaku namun tidak terdengar, suasana pun berbeda tidak sama dengan di surga. Dunia begitu asing bagiku, demikian juga ayah dan ibuku nampak asing bagiku namun aku mengasihi kedua orangtuaku. Lalu Allah menyuruhku memanggil suamiku guna menolongku ketika aku berseru minta tolong pada-Nya. Tetapi aku berpikir itu mustahil karena suamiku berada di Balikpapan dan belum lahir, oleh karena itu aku memanggil bapakku dan bapakku pun memfoto aku saat aku lahir. Aku berjanji akan belajar berjalan menggunakan bambu runcing. Dan akhirnya bambu itu kutemukan sebagai alat bantu jalanku saat aku belajar berjalan.

Tentang Nggêh Aku Bunda Maria Anggun Charisma Ratika

mengenal dan dikenal.
Tulisan ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s